Benny Wirsa: “Apakah Berpenghasilan Hanya Cukup Untuk Makan, Dikategorikan Bukan Orang Miskin ?!”

0
257

Jambi, warnajambi.com- Media beberapa hari ini dipenuhi dengan pemberitaan tentang penurunan angka kemiskinan, berbagai statement bermunculan menanggapi persoalan tersebut.

Penurunan persentase angka kemiskinan yang di release oleh Badan Pusat statistik (BPS) dinilai rancu dan tidak relevan dengan keadaan yang sesungguhnya, hal ini disampaikan oleh Benny Wirsa Martalaga, (17/7/2018) Pengurus BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Jambi.

“Penetapan angka pendapatan minimum oleh BPS itu sangat tidak relevan dengan keadaan yang sebenarnya, mereka menyatakan bahwa angka pendapatan dibawah +/- Rp.400.000; adalah orang miskin sementara diatas pendapatan tersebut sudah tidak miskin, ini jelas pernyataan yang sangat rancu, dan tidak berdasar coba hitung lebih detail lagi. Apakah hanya cukup untuk makan saja sudah Dikategorikan bukan orang miskin?! ” tegasnya.

Mantan Tenaga Ahli Sistem Informasi Manajemen Program Penanggulan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) wilayah Jambi, Riau Dan Kepri ini juga menjabarkan bahwa standarisasi penentuan BPS tersebut tidak sesuai dengan keadaan ekonomi negara.

“Dari tahun 2000 sampai tahun 2018 satandarisasi penentuan kriteria kemiskinan hanya meningkat beberapa persen saja, sementara nilai infalasi dari tahun 2000 hingga tahun 2018 tidak diperhitungkan, nah inilah yang membuat seolah angka kemiskinan menurun. Jika hanya ingin memberitakan tentang keberhasilan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan bukanlah dengan membodohi masyarakat, lakukan program- program konkret, lakukan pelatihan wira usaha, bukan pencitraan.” Tukasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan per Maret 2018 yang sebesar 9,82% menjadi paling rendah sepanjang sejarah.

Hal itu diungkapkan Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers neraca perdagangan Juni 2018. Dia bilang, angka kemiskinan per Maret tahun ini menjadi single digit.

“Apakah ini yang terendah, iya (terendah), bisa saya sampaikan kalau dilihat pada tahun Maret 2011 itu persentasenya 12,49%,” kata Suhariyanto di kantor BPS pusat, Jakarta, Senin (16/7/2018).

LEAVE A REPLY