Ingin Jadikan Musik Tradisi sebagai Sajian Rutin, Gentaranish adakan ‘Moment to Ethnic’

0
55
Penampilan Teater Tonggak di Anniversary Gentanarish yang pertama sekaligus penggalangan dana untuk korban gempa di Lombok

warnajambi.com, JAMBI – Gentaranish blues, rock n roll cafe and resto menggelar ulang tahun yang pertama pada 28 Agustus 2018. Dalam ulang tahun yang pertama, Gentaranish menyajikan kesenian tradisi dan kontemporer, sekaligus Donasi peduli untuk Lombok.

Kegiatan diisi dengan performing art dari teater tonggak yang sekaligus melakukan galang dana sebagai bentuk aksi peduli Lombok, pembacaan puisi oleh Hendry Nursal, musikalisasi puisi oleh Teater Alif dan Lam Alif, tari topeng Muaro Jambi, oleh Padmasana, magician oleh Arul dan juga musik oleh #1Band.

Yudi Bratama Firdaus dalam kata sambutannya menuturkan bahwa ingin menjadikan musik tradisi dan seni pada umumnya sebagai sajian rutin di kafe miliknya yang terletak di Jalan Hos Cokroaminoto, Simpang kawat tersebut.

“Kami bersyukur telah menginjak usia satu tahun pertama kehadiran kami di kota Jambi. Kegiatan ini menjadi harapan agar kedepannya selain musik, Gentaranish dapat menyajikan seni tradisi dan seni-seni lainnya secara rutin. Kami ingin berbeda, kami juga tidak menyediakan Alkohol ataupun miras disini,” Terang Yudi.

Selain pengunjung umum, tampak juga hadir Ediyan Ketua RT 07, Didin Sirojuddin SSn Kepala Taman Budaya Jambi UPTD Disbudpar Provinsi Jambi.

“Tidak terasa, Gentaranish sudah satu tahun, patut kita syukuri dan alhamdulillah jika seni-seni tradisi seperti yang ditampilkan malam ini akan rutin hadir. Terima kasih gentaranish memberikan ruang tersebut. Tentunya ini sangat baik agar generasi kita lebih kebal dekat dan mencintai seni serta kearifan lokal,” Ujar Ediyan, saat sampaikan sambutannya.

Gentaranish Moment To Ethnic, berlangsung pada sore hari (Sabtu, 01/09/2019) pukul 15.30 wib bahkan sempat memacetkan jalan Hos Cokroaminoto karena Aksi ‘Bambu Gilo’ dari Magician Arul mencuri perhatian pengendara yang melintas.

Lalu pada malam hari, pukul: 20.00 wib penuh sesak oleh pengunjung yang turut menyaksikan sajian tradisi dan seni dari berbagai komunitas tersebut.

Sementara itu, Didin Sirojuddin saat menjawab pertanyaan awak media seusai kegiatan, memberikan apresiasi positif dan tentunya berharap dapat kembali terlaksana

“Ini sangat baik, suara-suara musik tradisi seperti tadi, bahkan terdengar krinok mengalun di Gentaranish, itu kearifan lokal kita. Langka kita temuin di kafe-kafe tentunya. Saya dukung yang seperti ini, kedepan harapannnya akan kembali dilaksanakan,” Ujar Didin. (*/Hendry Noesae)

LEAVE A REPLY